Setahun 10/10: Hari Terbesar Bitcoin Kehilangan $19 Miliar, dan Kenapa Tahun Ini Bahayanya di Solar
Hari ini, Sabtu 10 Oktober 2026, genap setahun sejak hari paling brutal dalam sejarah pasar kripto. Trader menyebutnya 10/10 — dan Bitcoin sampai sekarang belum pulih. BTC diperdagangkan di sekitar $82.400 pagi ini, masih 32% di bawah rekor $126.000 yang dicetak hanya beberapa hari sebelum crash itu terjadi.
Yang bikin hari ini terasa aneh: peringatannya bukan dari pasar kripto, tapi dari harga solar di pompa bensin.
💥 Apa yang Sebenarnya Terjadi 10 Oktober 2025?
Konteksnya penting: saat itu semua orang merasa menang. Bitcoin baru saja menembus $126.000, ETF institusi mengalir masuk tiap hari, dan trader ritel memakai uang pinjaman (leverage) untuk mengejar altcoin.
Lalu semuanya retak dalam hitungan menit.
Menurut data CoinGlass, $19,37 miliar posisi terlikuidasi dalam 24 jam — yang terbesar yang pernah tercatat. Sekitar $7 miliar lenyap dalam satu jam saja. Dan angka yang paling menyakitkan:
- 1,6 juta lebih trader kena likuidasi
- Posisi long yang hancur: $16,78 miliar
- Posisi short yang kena: $2,46 miliar
- BTC jatuh dari ~$122.000 ke ~$105.000, menyentuh dasar $104.782
Pemicunya sepele: satu postingan kebijakan tarif dari Gedung Putih. Tapi yang membunuh bukan postingan itu — melainkan mesin likuidasi otomatis yang mengeksekusi posisi berleverage secara berantai di bursa-bursa.
🔍 Bagian yang Jarang Dibahas: Bukan Bitcoin yang Jadi Biang Kerok
Ini temuan paling penting dari investigasi setahun terakhir. Yang runtuh lebih dulu bukan Bitcoin, tapi token jaminan kecil di bursa terbesar.
Kronologinya begini:
- 21:31 UTC — spread perpetual BTC meledak ke 26,43 basis poin, dari normalnya 0,02. Ini indikator kepanikan pasar.
- 21:36–22:15 UTC — harga indeks untuk USDe, lalu WBETH dan BNSOL, menyimpang dari nilai referensinya.
- Akibatnya, akun-akun yang memakai token itu sebagai jaminan dilikuidasi di harga yang tidak ada di bursa mana pun.
Ethena kemudian memproses sekitar $2 miliar redemption USDe dalam 24 jam setelahnya. Artinya: kerusakan sebenarnya terjadi di lapisan infrastruktur jaminan, bukan di Bitcoin-nya. Bitcoin cuma jadi rumah terakhir yang ikut ambruk.
🌡️ Setahun Kemudian: Pasar Masih Sakit
Jejak 10/10 tidak hilang. Angka-angka ini bicara sendiri:
- Puncak market cap kripto total: ~$4,28 triliun (awal Okt 2025) → sekarang tinggal ~$2,74 triliun
- Bitcoin sempat menyentuh dasar $58.600 pada 1 Juli 2026
- Outflow ETF Bitcoin spot Oktober ini mendekati $1 miliar
- Pada 8 Oktober saja, ETF spot AS mencatat outflow bersih $484,9 juta — BlackRock ($207,7 juta), Fidelity ($105,1 juta), ARK 21Shares ($101,7 juta)
- Pada 9 Oktober, likuidasi kembali menembus $1,1 miliar dan spekulan memindahkan 55.000 BTC ke bursa
Yang masih hijau tinggal sedikit. Hyperliquid (HYPE) masih +228% year-to-date — ironis, karena makin banyak likuidasi berarti makin banyak fee buat bursa perpetual on-chain itu.
⛽ Ancaman Tahun Ini Bukan Tarif, Tapi Solar
Inilah pembeda terbesarnya. Kalau 10/10 2025 dipicu perang tarif, peringatan edisi 2026 datang dari perang fisik.
Perang AS–Iran sudah memasuki bulan kedelapan. Pekan ini dua hal terjadi:
- Anggota parlemen Iran mengajukan impeachment terhadap Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi
- Menteri Perminyakan Iran, Mohsen Paknejad, mengundurkan diri
Productionnya jalan, tapi tidak merata: ekspor minyak Teluk sudah kembali ke 91% dari level pra-perang, sedangkan bahan bakar seperti solar hanya 60% (data Vortexa). Harga solar AS rata-rata $6,41 per galon pada 30 September — naik ~73% dari setahun lalu.
Patrick De Haan dari GasBuddy menyebutnya dengan tepat:
“Solar adalah bahan bakar yang menggerakkan hampir semua barang yang kamu beli.”
G7 sudah sepakat melepas 100 juta barel minyak darurat, tapi Brent tetap di sekitar $102. Dampaknya ke kripto jelas: likuidasi melonjak 235% ke $547 juta pada 7 Oktober, dan Bitcoin tertembus di bawah $84.000 setelah Iran menyerang tanker di Selat Hormuz.
📊 Pelajaran Praktis untuk Kamu
Dari satu tahun 10/10, ada lima hal yang layak diingat:
- Leverage bukan alat, tapi bahan bakar. $19 miliar musnah bukan karena harga turun — tapi karena posisi berutang dipaksa tutup. Kalau posisimu bisa dipaksa tutup, kamu bukan investor, kamu penonton.
- Bahaya terbesar ada di jaminan, bukan di asetnya. Kalau kamu menaruh token sebagai collateral, cek dulu apakah token itu likuid di lebih dari satu bursa. USDe dan WBETH membuktikan jaminan “aman” bisa keseret tanpa peringatan.
- Heatmap likuidasi itu nyata. Klaster long berleverage di sekitar $82.600 sudah terdeteksi sebelum harga jatuh — dan tembusnya di situ membuat penurunan jadi jauh lebih tajam.
- Bitcoin sekarang aset makro, bukan aset kripto. Nasibnya ditentukan oleh minyak, yield obligasi, dan dolar. Memantau chart BTC tanpa memantau Brent itu kerja setengah.
- Sabtu ini tetap tanggal merah di kalender trader. Setiap 10 Oktober, orang memasang target di klaster yang sama. Waspadai volatilitas, jangan justru menambah leverage.
🔗 Bukan Soal Sekali Kejadian
10/10 bukan kecelakaan tunggal — dia menandai puncak siklus. Bitcoin belum pernah kembali ke atas $126.000 sejak hari itu. Untuk melihat bagaimana uang berpindah kamar setelah kejadian ini — ke altcoin ETF dan RWA — baca analisis kami kemarin: Bitcoin 32% di Bawah Puncak, Uang Malah Pindah ke Altcoin ETF dan RWA.
Satu catatan regional yang menarik: Thailand baru menyelesaikan aturan yang membuka jalan bagi ETF Bitcoin dan Ether di bursa mereka (8 Oktober). Sinyal bahwa Asia Tenggara justru mempercepat adopsi institusional di tengah pasar yang patah.
Setahun setelah hari terburuk, pertanyaannya bukan lagi “kapan Bitcoin kembali ke $126.000?”. Pertanyaannya: apakah kita sudah belajar bahwa yang bikin bangkrut bukan harga yang turun, tapi ukuran posisi yang salah?
Kalau kamu punya cerita 10/10 sendiri, tulis di komentar — kami baca semuanya.
— Chokdi 🐷 · Content Studio · 2026